Karma

Dear World,

Sejak saya mulai mengerti soal baik dan buruk, sepertinya sejak saat itu pula saya belajar untuk mulai memilih.

Saya lagi ga mau berkicau soal hidup sih sebenarnya.. Karna saya yakin, ada orang-orang yang jauh lebih pintar, berpengalaman, dan bagus dalam memilih kata-kata yang tepat soal hidup. “Life is.. ” atau “Hidup adalah….”. Setiap orang pasti punya definisi soal hidupnya masing-masing, yang sifatnya sakral.. dan… pribadi.

Tapi kali ini, saya ingin berkicau soal karma.

Yang entah bagaimana, dia sangat bersinggungan dengan hidup. Atau lebih tepatnya, bersatu.

Kembali ke awal, sejak saya diajari soal kata baik dan buruk, dan diberi contoh mana yang baik dan buruk, itu adalah awal dari saya belajar untuk memilih. Ya memilih kata-kata, memilih sikap, memilih apa yang harus saya lakukan, memilih pergaulan, bahkan memilih jawaban mana yang paling tepat dalam ujian. Saya dihadapi oleh pilihan. Dan yang sejak saya belajar kata baik dan buruk itu, pilihan-pilihan tersebut akan saya labeli dengan dua kata itu.

Ketika saya beranjak dewasa, saya mulai menyadari.. Bahwa baik dan buruk itu terlalu general. Baik dan buruk itu terlalu abu-abu. Apa yang saya anggap buruk, bisa jadi sebenarnya baik. Apa yang saya anggap baik, bisa jadi sebenarnya buruk. Dan bahkan ketika semuanya itu sudah mengerucut ke satu kata (baik/ buruk), mereka tidak sepenuhnya murni begitu. Pasti ada komposisi keduanya yang bergabung.

Dan mengelompokkan semuanya ke hanya dua hal: baik dan buruk, menjadi hal yang saya hindari sekarang.

Saya merasa pandangan hidup tidak sepantasnya dikategorikan hanya pada dua hal: bad and good. Dan hidup bukan hanya sekadar surga dan neraka. Atau malaikat dan iblis. Atau ustadzah dan pelacur. Atau berbagai hal yang selama ini saya anggap jelas baik dan buruknya.

Saya mulai percaya, selalu ada sisi baik dari yang buruk dan selalu ada sisi buruk dari yang baik. Kadang mereka tidak seperti dua sisi mata uang yang berbeda. Mereka, bisa jadi beririsan.

Sampai di sini, saya menganggap diri saya sudah cukup terbuka karna tidak mengelompokkan hidup hanya berdasarkan baik dan buruknya.

Tapi kemudian, saya belajar sesuatu di dua hari ini.

Tentang karma.

Karma ditentukan dari apa yang kita lakukan. Jika kita berbuat baik, maka kita akan mendapat karma (atau balasan) yang baik pula. Sebaliknya, jika kita berbuat buruk maka kita akan mendapatkan karma yang buruk juga. Dalam konsep karma ini, penentuan balasannya ada dalam dua hal: baik dan buruk. … Hmm, apa Tuhan memang udah menciptakan semuanya serba berpasang-pasangan ya?

Apa yang disebut karma ini, ga hanya berlaku di dunia nyata tapi juga menjadi penentuan bagi tempat seperti apa yang pantas untuk kita di kehidupan selanjutnya… berdasarkan apa yang sudah kita perbuat. Sebab. Akibat.

Kemarin saya menonton sebuah video, rekaman dari seorang anak laki-laki 18 tahun yang belakangan diketahui akhirnya meninggal di hari natal. Sebelum meninggal itu, dia merekam dirinya. Dia bercerita lewat kalimat-kalimat yang dia tulis di banyak kertas. Seperti alur, rapih dan berurutan. Di situ, Β dia menceritakan tentang pengalamannya waktu kecil (umur 5tahunan) ketika dia hampir meninggal dari penyakit jantungnya. Waktu itu dia ingat sedang berbaring di tempat tidur. Dan dia melihat cahaya putih yang besar banget dan menunjukkannya pada ibunya, “Ma, lihat ada cahaya putih besar!”. Ibunya jawab sambil kebingungan, ga ada cahaya putih apapun. Kejadian selanjutnya dia ga ingat, dia cuma ingat kalau timbul perasaan yang luar biasa damai waktu melihat cahaya itu.

Dia kemudian tumbuh besar, masih dengan sakit jantungnya. Dia bercerita bagaimana dia melewati hari-harinya sebagai seorang anak remaja yang.. sakit. Suatu hari, dia pingsan. Ga lama dia dibawa ke rumah sakit dan dinyatakan koma. Dalam komanya, dia melihat sesuatu yang dia bingung harus bilang itu apa, entah mimpi.. atau cuma sekedar vision. Di dalam “mimpi”nya, dia berada dalam satu ruangan serba putih… dan ruangan itu luas sekali.. sampai batasnya tidak terlihat. Dia melihat dirinya di cermin, pakai setelan putih-putih. Di ruangan itu, dia bertemu seseorang yang berpakaian putih-putih juga.. dan orang itu bilang, “kembalilah!”. Ga lama, dia bangun dari komanya dan menyadari dirinya sudah di rumah sakit.

Yang dia ceritain, ada satu perasaan yang miripp banget waktu dia melihat cahaya putih itu. Dia merasakan perasaan damai yang luar biasa. Perasaan damai yang sampai-sampai ngebuat dia ga mau meninggalkan ruangan serba putih itu. Di akhir kalimatnya, dia nulis “Do you believe in God?” | “Do you believe in Angels?” | “I do” |

It was a very touchful video from an 18 years old boy. Apalagi video ini dibuat sebelum kematiannya.

Memang ga ada hubungannya sama karma sih. Tapi entah kenapa saya jadi ingat karma..

Besoknya, saya nonton drama korea 49 days, yang bercerita soal roh yang berjuang mengumpulkan 3 air mata yang tulus untuk hidup kembali. Dalam 49 harinya itu, dia menemukan banyak banget hal yang baru: tentang cinta orangtua, teman sejati, dan kekasih sejati. Dan dia menyadari betapa berharganya waktu 49 harinya itu untuk orang-orang yang dia kasihi.

Lagi-lagi, ini ga ada hubungannya sama karma.

Tapi, dua hal soal kematian dan kehidupan ini mengingatkan saya tentang karma.

Mungkin saya bisa saya ngelanjutin hidup dan berpikir ga ada yang bener-bener baik dan buruk di dunia ini.

Saya bisa saja terus menerus membiarkan hidup saya ga berpalang di kanan kirinya.

Tapi setiap kali saya ingat soal kematian, saya tahu.. yang saya butuhkan sebetulnya bukan soal mempercayai bahwa hidup tidak sepenuhnya berdasarkan baik dan buruk. Dan berpikir seolah-olah saya akan berpikiran sangat sempit kalau berpaku pada dua kategori itu. Yang saya butuhkan sebetulnya cuma kata “believe”. Believe in what you think it’s good. Jalani aja hidup berdasarkan apa yang saya percayai itu baik… Percaya bahwa kebaikan ini akan berbuah kebaikan juga suatu saat nanti. Ga usah ribet mikirin apakah yang baik itu sebetulnya buruk.. atau sebaliknya. Karna, ga akan ada habisnya. Lagian, sepenting itukah? sampai-sampai kamu mengabaikan hal-hal baik yang seharusnya kamu lakukan karna kamu terlalu ribet mikirin itu bagian dari baik atau buruk. Tanpa kita sadari, waktu kita sangat terbatas di dunia ini. Hehehe..

Jadi, here I am.

Mulai berpikir sederhana untuk menghadapi hal-hal di depan.

Mulai berpikir mau menabung banyak karma kebaikan di hari-hari yang tersisa.

And I think..

Life is as simple as it is.

Dan kadang, manusia terlalu ribet saja mikirannya.

πŸ˜› kayak saya ini.. dan entah kenapa saya mulai merindukan masa-masa saya kecil dulu..

yang polos.. lugu… yang selalu berusaha berbuat baik untuk orang lain.. yang mau berbuat lurus-lurus aja.

You know what, world? I think we really need to be naive at times. Life seems to be more peaceful and beautiful for those naives. Daripada hypocrites kan? hahaha, ya udah ya udah. Mikirin karma aja lah di dunia.. itu jauh lebih penting.

 

Btw, happy new year 2012! Masih beberapa jam lagi sih.. tapi guess tomorrow I’ll be too busy to post a happy new year here.

once again,

HAPPY NEW YEAR 2012!

 

d/e

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s