Capitalism Vs Alien

Beberapa hari terakhir ini, saya lagi asik-asiknya dibakar sama dua topik seru (yg sebetulnya udah basi):

1. Capitalism

2. Alien

Untuk topik pertama itu.. si kapitalisme.. sebenernya dari jaman saya SD apa SMP, udah sering diperbincangkan. Dan sama seperti isu-isu panas/ agak panas alias suam-suam kuku lainnya, ya topik atau bahasan itu lewat gitu aja dari perhatian saya. Mungkin, dulu karna masih terlalu kecil untuk memahami arti kapitalisme, atau mungkin juga karna saya emang ga tertarik sama isu itu. Hehehe. Cuma ya setelah saya pikir-pikir lagi, saya ga peduli sama kapitalisme, karna saya ga pernah liat/ merasakannya secara utuh, secara nyata. Kapitalisme? Ya jenis penjajahan baru gitu lah. Udah. Itu aja. Ya akhirnya bener juga kan? Kapitalisme cuma jadi isu yang selewat-selewat aja.

Kemarin, pandangan saya berubah.

Saya secara ga sengaja klik channel History. Dan kebetulan skali, di siang hari yang damai itu, si channel sedang nayangin: Capitalism: A love story. Ngebaca A love story, bikin saya berlama-lama, saya pikir itu acara semacam drama atau sejenisnya tentang kisah cinta yang diliputi kapitalisme (??). Dan ternyata, acara itu beneran ngebahas KAPITALISME. Sempet sih mikir, duh basi bener sih nih isu. Tapi setelah saya pantengin dengan manis & bersahaja.. hahaha.. ternyata seru juga topik yang dibahas itu. Emm.. kalo bisa dibilang ini semacam film documentary gitu.. yang dipimpin oleh seorang pria tambun (berkacamata kalo ga salah) dan berambut keriting. Ya.. lah kok saya males gini ya cerita detailnya? hehe. Sorry, my bad, as usual. Langsung jump into conclusion aja ya? Oh jangan ya?

Di film itu diceritain, kalau Amerika ini sangattt kental dengan kapitalisme. Scene pertama yg saya liat, itu tentang perusahaan-perusahaan besar yang memakai jasa asuransi. Jasa asuransi untuk kematian karyawannya. Oke. Kalian pasti sedang berpikir.. loh terus kenapa dengan asuransi kematian itu? Bukannya bagus ya? Bukannya justru menyokong kehidupan karyawannya ya?

Ups. Tunggu dulu. Ternyata gambaran untuk pemakaian asuransinya adalah begini: Ketika ada karyawan mereka yang meninggal, si perusahaan ini akan mendapat uang dari asuransinya tersebut. Perusahaannya ya. Bukan karyawannya yg mendapat uang.

Apa?

Iya, jadi karyawan meninggal. Perusahaan dapat uang. Sementara keluarga karyawan yg meninggal itu ngga dapet sepeser pun.

Di scene itu yang diambil contohnya adalah perusahaan Wal-Mart. Jadi sang suami yang sudah bertahun-tahun mengabdi kepada Wal-Mart merasa sangat dikecewakan, merasa sangat dibuang, ketika istrinya, yg juga sudah mengabdi di Wal-Mart, meninggal dunia. Lalu sang suami bercerita betapa Wal-Mart tidak pernah membantunya sedikit pun, atau memberi uang sepeser pun untuk setidaknya meringankan dia dalam mengurus pemakaman istrinya.

Trus, dia ditanya sama dokumenternya, “Apakah Anda tahu bahwa Wal-Mart menerima uang asuransi untuk kematian istri Anda?”

Mereka, satu keluarga itu, terlihat shock. Si anak, yg perempuan dan laki-laki, terlihat nangis sesenggukan. Trus yang aku bikin kagum dari anak perempuannya, yang masih remaja itu, sambil nangis dia bilang, “Mereka tidak sepantasnya melakukan itu pada orang yang meninggal”. Seandainya saya jadi dia, mungkin saya akan maki-maki perusahaan itu..:/ Ya kebayang ya, orangtua saya meninggal! Dan perusahaan itu tega-teganya ambil untung dari kematian orangtua saya.

Dan.. di film dokumenter itu, diliatin juga tentang istilah yang mereka pakai untuk asuransi karyawan mereka yg meninggal:

DEAD PEASANTS.

Kata Peasants mengarah pada arti “rakyat biasa”. Dan, di negeri sana, penggunaan kata ini untuk seseorang itu dianggap sangat.. merendahkan. Makanya, waktu para keluarga “korban” perusahaan-perusahaan besar itu diberi tahu bahwa istilah yang mereka (si perusahaan2 besar) itu gunakan untuk karyawan mereka yg meninggal adalah Dead Peasants, para keluarga langsung terlihat kaget. Lagi-lagi, shocked. Mereka merasa kematian salah satu anggota keluarga mereka, yang sudah mengabdi ke perusahaan bertahun-tahun, kok ya tega-teganya disebut peasant? Emang ga ada kata lain ya yang bisa menggambarkan seseorang? Apalagi seseorang ini sudah bekerja bertahun-tahun ke perusahaan.

Di documentary itu juga disebutin perusahaan-perusahaan besar lainnya yang menggunakan jasa asuransi jenis itu. Yang saya baca, ada Wal-Mart, ada Nestle juga. Dan lainnya yang kurang familiar di telinga saya.

Scene kemudian berpindah ke Wall Street. Tentang saham-saham… yang saya ga mudeng.

Di Wall Street, dan bank-banknya Amerika, ada istilah soal Derivative. Scene berubah ke rekaman saat si Dokumenter meminta tolong pada orang-orang berjas dan berdasi yang keluar dari gedung  (Wall Street?)  untuk ngejelasin apa itu Derivative. But, none of them could make time to explain. Trus, akhirnya ada seorang petinggi (saya lupa jabatan tepatnya apa) di Wall Street yang mau menjelaskan apa itu Derivative.

Lucunya, dia berulang-ulang mencari kalimat sederhana yang mudah dipahami untuk menjelaskan apa itu Derivative, tapi dia terlihat sangat kesulitan. Begitu juga orang-orang berikutnya yang mau menjelaskan.

Satu analogi yang sepertinya sangat simpel adalah:

“Saat Anda membeli sebuah barang. Maka derivative adalah harga lain dari barang tersebut”

Hem…..

Lalu, scene berikutnya mencoba menjelaskan apa itu Derivative. Diperlihatkan rumus Derivative yang…ooohhh sangat panjang dan belibetnya. Apa kita perlu hapal atau paham soal itu? Kata Dokumenternya, Oh sungguh tidak perlu. Katanya, rumus Derivative diciptakan memang untuk tidak sembarangan dimengerti orang. Orang awam mungkin maksudnya? Hem..:/

Scene yang tadi saya ga terlalu ngerti. derivative?

Nah Scene yang berikutnya menceritakan tentang BANK. Yaps, bank.

Di film documentary itu, diperlihatkan sebuah surat yang dikeluarkan oleh Citibank, yang hanya ditujukan pada para penabung terbesar mereka. Si 1%.

Di surat itu, dijelasin kalau mereka si para penerima surat itu adalah orang-orang yang tergolong ke 1% . Which is, orang-orang terkaya di dunia. Surat itu juga menggambarkan, bahwa orang-orang / penduduk lainnya tergolong ke 99%. Jika kekayaan golongan 99% ini dikumpulkan bahkan ga bisa menandingi kekayaan si golongan 1%.

Pretty sad?

Yes.

Dan yang lebih miris, di surat itu juga diceritain kalau… satu-satunya kekurangan golongan 1 % adalah, jika setiap orang/penduduk di dunia ini punya hak sebanyak SATU suara. 99 suara lawan 1 suara? jelas si golongan 1% akan kalah telak. Lalu di surat itu, hal yang perlu ditakutkan oleh golongan 1% adalah jika si pemegang 99 suara itu atau si golongan 99% ini MENUNTUT pemerataan kekayaan.

Apakah si golongan 99% (dimana saya termasuk di dalamnya) betul-betul akan menuntut pemerataan kekayaan?

Oh, ternyata ngga akan. Kenapa?

KARENA, si golongan 99% telah BERHASIL dibuat PERCAYA kalau mereka juga akan bisa sekaya si 1% kalau mereka berjuang keras. Kalau mereka berusaha. (And this is real stated on that letter. Do you feel like being fooled? So do I)

Ya.. ya, itu rasanya dipercaya oleh hampir seluruh orang di dunia. Bahwa kita bisa kaya, kalau kita mau bekerja keras.

But unfortunately,

Sekeras apapun kita berusaha, kita ga akan bisa sekaya si golongan 1 %. Si golongan yang dipuja-puja oleh para bank ini. Si golongan kapitalis ini. Fiuh… Another scene juga sempet menceritakan tentang sebuah bank, yang memberikan pinjaman khusus ke orang-orang tertentu (pastinya yang kaya, yg si 1%), dan si bank ini memberikan bunga yang sangaaaaattt sopan. Sementara masyarakat Amerika lainnya dicekik dengan bunga yang sangat tinggi.

Ya.. jadi begitu. Setelah nonton film documentary ini, entah kenapa gambaran soal kapitalisme itu jadi bener-bener nyata di mata saya. Bayangan kapitalisme yang selama ini saya dapetin cuma berupa essay semata, kali ini saya diperlihatkan bukti-bukti yang nyata. Rekaman dari keluarga korban, surat-surat dari Citibank, orang-orang yg bersangkutan, dsb.

Life’s becoming so blurry.

Mana hitam mana putih, jadi ga jelas. Bisa jadi hitam itu putih. Dan putih itu yang hitam. Atau bisa jadi juga sebaliknya, gitu aja terus…

Hahahahaha pusing….

Oh, the 2nd thing I want to tell? About Alien?

Nanti ya saya ceritain tentang siapa sesungguhnya Alien itu.. (teori Delin, haha)

d/e

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s