Evergreen

Evergreen

“ Riku, kasih tau saya deh. Kenapa sih kamu gak mati aja?’

Pias, membias.

”Kan saya punya kamu.

” Hidihhh … sok milik! Memang kamu siapanya saya sampai berani-beraninya bilang begitu!

” …

Yang bernyawa. Yang bernapas. Yang hidup.

Mati. Kenapa tidak bisa bersabar sedikit?

” Diam? Merasa tersakiti ya saya bilang begitu? Heh?

Yang hidup malah kadang bertindak seperti orang mati.

” Tidak. Saya malah makin cinta sama kamu.

Hitamnya selalu tidak sama dengan hitamku. Putihnya selalu tidak sama dengan putihku.

Kenapa kita tidak melebur menjadi abu-abu saja?

” Hah? Gila! Sedeng, kamu! Ini pisaunya. Mau aku tusuk di sebelah mana?

Kenapa kita tidak melebur menjadi abu-abu saja?

” Terserah.

” Tidak, kau harus pilih. Kau yang harus menentukan. Ini kan soal matimu.

” Terserah Aila…

” Bodoh!! Aku bilang kau yang menentukan .. !!

Suaranya, seperti desiran ombak di hatiku. Mendamaikan, memecah, mendamaikan, memecah, mendamaikan …

” Tusuk aku di tempat yang tidak akan membuatku kesakitan, di tempat yang tidak akan membuat darahku habis atau jantungku berhenti berdetak.

” Sungguh kau ingin aku menusukmu di tempat itu, Riku?

” Ya.

” Baiklah, ada hal lain yang ingin kau sampaikan sebelum kau mati?

” Tidak. Karena aku akan tetap hidup dimanapun kau menusukku.

Kau adalah Everg. Dan aku adalah Reen. Jika kita bersatu, kita akan menjadi Evergreen.

” Aku akan menusukmu, Riku. Dan kau akan mati.

” Hahaha … memangnya kau akan menusukku dimana?

Apakah rasa bagian dari jiwa? Apa jiwa itu berasa? Evergreen.

” Aku akan menusukmu, Riku. Sungguh. Sekarang, Riku …

” Heh?? …. Ti, tidak … jangan disitu ..

” Ya, aku menusukmu di jantungku. Itu tidak akan membuatmu kesakitan, tidak akan membuat darahmu habis atau jantungmu berhenti berdetak. Tapi itu membuatmu mati.

” Aila !!!

” ……..

”Ailaaaaa….

..

”A .. i .. la ..

Kenapa kita tidak melebur menjadi abu-abu saja?

Itu memang tidak membuatku kesakitan. Tidak membuat darahku habis ataupun membuat jangtungku berhenti berdetak.

Tapi kau membuatku mati rasa!

Jiwa ini mati rasa.

Rasa ini mati.

Mati rasa.

Kau adalah Everg. Dan aku adalah Reen.

Selamanya, kita adalah Evergreen.

Walaupun tidak akan pernah menjadi abu-abu.

.Aila.

.Riku.

.Everg.

.Reen.

.Ever.

.Green.

.Evergreen.

sepasang kaus kaki dan kaki

sepasang kaus kaki dan kaki

Note. Cerita sepotong ini dibuat hari Jumat, tanggal 16 November 2007. Di Pondok Ginastri, kosan saya. Hah! Someday the story must be more clear than this. Iya nih, saya cuma bikin sepotong cerita aja .. dan pengennya suatu hari nanti saya bisa bikin pendukung2 dari cerita utama ini sehingga bisa dibilang sebagai CERITA PENDEK. Or maybe more than just a short story.. ;D  Caoo ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s