SWISS: Internalisasi Karakter Melalui Pendidikan

Ini adalah tulisan saya saat harus membuat paper untuk mata kuliah perkembangan karakter satu tahun yang lalu…

Setiap bangsa memiliki karakternya masing-masing yang membedakannya dengan bangsa lain. Kesuksesan dan kemajuan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh luas tidaknya atau melimpah tidaknya sumber daya alam dan sumberdaya manusia yang dimiliki oleh negara tersebut. Banyak negara-negara di dunia dengan kekayaan alam melimpah dan jumlah penduduk yang besar seperti Filipina, Indonesia, dan negara-negara di Amerika Selatan yang terpuruk secara ekonomi, politik, maupun sosial. Sedangkan Swiss, salah satu negara terkecil di dunia dengan luas wilayah hanya 41.285 km2 atau sebesar provinsi Jawa Barat dan Banten, dengan populasi penduduknya 7.581.520 jiwa (tahun 2008) memiliki akreditasi yang sangat baik di mata dunia. Hal ini tentunya tidak lepas dari karakter yang telah dimiliki bangsa Swiss sejak lama yang membuat dunia mengenal Swiss sebagai bangsa yang netral, terpercaya, nasionalis, integritas, menghargai perbedaan agama dan ras penduduknya, mengutamakan pendidikan warganya serta menjunjung tinggi demokrasi. Karakter inilah yang kemudian membawa bangsa Swiss sebagai negara paling makmur dan aman di dunia dengan tingkat kriminalitas paling rendah dan tingkat buta huruf hampir 0%. Internalisasi karakter yang sedang dan telah dilalui bangsa Swiss bukanlah sebuah proses yang singkat dan mudah. Proses internalisasi ini membutuhkan waktu yang panjang dan konsistensi sehingga dapat mengakar pada setiap warganya. Salah satu media internalisasi karakter yang paling efektif yang telah dipilih oleh bangsa Swiss adalah melalui pendidikan.

Karakter Bangsa Swiss

Swiss adalah negara kecil dengan luas wilayah 41.285 km2 atau sebesar provinsi Jawa Barat dan Banten, dengan populasi penduduknya 7.581.520 jiwa (tahun 2008). Ibukota negara ini adalah Bern. Sebagian besar wilayah Swiss ditutupi oleh pegunungan Alpen. Swiss diapit oleh negara-negara besar di Eropa, yaitu Perancis di bagian barat, Jerman di utara, Austria di sebelah timur, dan Italia di bagian selatan. Letak Swiss yang diapit oleh berbagai negara tersebut membuat Swiss menjadi bangsa yang majemuk dengan ¾ warganya adalah asli Swiss sementara ¼ warga negaranya adalah pendatang yang sebagian besar berasal dari negara-negara Eropa di sekitarnya. Swiss memiliki empat bahasa resmi, yakni bahasa jerman yang digunakan oleh 64% penduduknya, bahasa perancis (19%), bahasa italia (8%), dan bahasa roman (kurang dari 1%) (Heatwole 2008). Kemajemukan ini tidak membuat bangsa Swiss terpecah belah. Isu rasial pernah meneror sebagian besar warga asli Swiss dengan kampanye politik yang dilakukan oleh Christoph Blocher, pemimpin Partai Rakyat Swiss. Blocher gencar menyebarkan isu-isu anti-imigran, anti-islam, anti orang-orang asing, yang dianggapnya sebagai faktor penyebab utama meningkatnya masalah kriminalitas dan sosial di Swiss. Bahkan, Blocher memasang poster bergambarkan domba hitam yang sedang ditendang oleh domba putih di perbatasan Swiss. Tetapi saat hasil akhir pemilu Swiss, Blocher kalah dengan hanya perolehan suara 29%. Meskipun sempat resah dengan isu yang disebarkan, warga Swiss lebih resah akan kehilangan kekeluargaan dan keharmonisan yang telah mereka bangun selama ini. Swiss sangat melindungi keutuhan tetap terjaga dalam keragaman mereka.

Penghormatan terhadap keberagaman bangsa Swiss juga tercermin dalam politik negara yang terkenal sebagai negara paling demokratis itu. Setiap petunjuk atau pengarahan di parlemen selalu disediakan dalam empat bahasa. Tidak ada keberpihakan terhadap kaum mayoritas atau minoritas tertentu. Semua bahasa dipakai demi tersampaikannya setiap aspirasi. Penentuan keputusan atau penyelesaian masalah dilakukan melalui musyawarah untuk mendapatkan kata sepakat. Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan tidak mutlak sebagai pengambil keputusan utama. Seluruh keputusan diambil secara demokratis dengan melibatkan partisipasi rakyat secara langsung. Swiss telah menjalankan demokrasi yang seutuhnya: rakyat adalah negara, dan negara adalah rakyat. Kedaulatan adalah di tangan rakyat dibuktikan oleh negara yang memiliki indek anti-KKN terendah di dunia ini.

Demokrasi pun tetap berjalan saat Swiss harus menentukan keberpihakannya pada Jerman atau Perancis ketika perang dunia II.  Sebagian berpikir agar Swiss berpihak pada Jerman. Sebagian lain yang berbahasa Perancis, Italia, dan Roman menginginkan agar Swiss tidak berpihak pada negara manapun. Tetapi pada akhirnya diputuskan Swiss tidak berpihak pada Jerman ataupun Perancis. Swiss memutuskan untuk netral. Sejak 1815, Swiss tidak pernah terlibat dalam perang dengan pemerintahan asing lain. Kenetralan Swiss membuat banyak organisasi internasional membangun markasnya di Swiss, seperti WHO, ILO, dan UNHCR yang bermarkas di Jenewa. Bahkan, PBB membangun sebagian besar kantornya di negara ini meskipun pusat PBB berada di New York.

Swiss bukan negara yang kaya akan sumberdaya alam. Penduduk Swiss memiliki kesempatan mengolah tanahnya hanya selama enam bulan sekali dan sisanya mereka habiskan di dalam rumah karena cuaca dingin yang membeku. Waktu enam bulan ini disiapkan pula untuk persediaan selama satu tahun.Tetapi, Swiss mampu menjadi negara yang paling makmur di Eropa dan dunia dengan pendapatan perkapita tertinggi di dunia, yaitu $ 50.781 (2006) (Heatwole 2008). Swiss yang tidak memiliki kekayaan hasil bumi mengandalkan sektor perbankan dan pariwisata untuk memajukan perekonomiannya. Integritas, loyalitas, kejujuran, dan tanggung jawab ditawarkan oleh bank-bank di Swiss. Stabilitas politik dan ekonomi selalu terjaga dengan tingkat inflasi rendah  dan hukum perbankan yang jelas. Hasilnya, bank-bank di Swiss menjadi tempat yang paling dipercaya oleh orang-orang dari berbagai negara untuk menyimpan uangnya. Swiss juga dipercaya sebagai pusat finansial dunia. Keberhasilan Swiss di bidang ekonomi didukung pula oleh sektor pariwisatanya.

Pegunungan Alpen yang indah yang menutupi sebagian besar wilayah Swiss dan sering disebut sebagai surga dunia dijadikan sebagai daya tarik di sektor pariwisata. Pariwisata menjadi penting di Swiss sejak masa enlightenment saat para penulis, seniman, dan ilmuwan menemukan inspirasinya di pegunungan Alpen. Kota-kota di tepi danau Picturesque, termasuk di dalamnya Interlaken, Lausanne, Lucerne, Montreux, dan Vevey, adalah pusat pariwisata di Swiss. Sektor ini mulai tumbuh sejak berakhirnya Perang Dunia II. Ada sekitar sepuluh juta turis setiap tahunnya yang mengunjungi Swiss. Daya dukung dari keberhasilan di sektor pariwisata ini juga berasal dari warga Swiss yang memiliki sifat ramah, berpikiran terbuka, jujur, dan selalu menghindari konflik.

Swiss menjamin setiap bidang kehidupan yang baik bagi warganya, baik di bidang sosial, ekonomi, politik, teknologi, transportasi, dan pendidikan. Pendidikan selalu menjadi prioritas utama pemerintah Swiss.

Pendidikan di Swiss

Swiss sudah sejak lama menjadi pusat pendidikan. Sistem pendidikan modern Swiss menjadi yang terbaik di dunia. Angka buta huruf di Swiss adalah 0%. Pendidikan di Swiss banyak dipengaruhi oleh sejarahnya. Pendidikan agama yang diterapkan di Swiss dipengaruhi oleh John Calvin yang datang ke negara ini tahun 1536. Pendidikan Swiss yang mengutamakan ekspresi individu (individual self expression) murid-muridnya dipengaruhi oleh seorang filsuf ternama di Swiss pada abad pertengahan 18, Jean Jacques Rousseau. Johann Pestalozzi, seorang yang merupakan pejuang pendidikan, turut memberikan pengaruh besar bagi sistem pendidikan Swiss. Johann Pestalozzi menekankan bahwa anak-anak sebaiknya belajar dari pengalaman mereka sendiri. Seorang psikolog Swiss, Jean Piaget, turut berperan dalam menerapkan konsep kemampuan belajar dan kebiasaan anak-anak dalam sistem pendidikan di Swiss.

Pemerintah Swiss sangat mengutamakan pendidikan warganya. Jika ada enam orang warganya yang mengajukan untuk sekolah, pemerintah Swiss akan membangun sekolah dan menyediakan guru untuk mereka beserta fasilitas lengkap. Hal ini berlaku bagi setiap warga negaranya, tidak peduli ras atau agama mereka. Sekolah-sekolah negara di Swiss tidak dikenakan biaya. Setiap sekolah di masing-masing canton (wilayah bagian negara) menggunakan bahasa resmi yang biasa digunakan warga setempat. Siswa juga diwajibkan mempelajari bahasa negara kedua untuk meningkatkan rasa kebangsaan mereka.

Peran Pendidikan dalam Internalisasi Karakter

Swiss berhasil menjadi sebuah bangsa yang berkarakter. Swiss sedang dan telah menghasilkan sumberdaya manusia yang berkualitas yang memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang tinggi, tidak hanya kecerdasan otak kiri semata. Hasilnya adalah manusia-manusia berkarakter yang diakui dunia.

Karakter dibentuk tidak melalui suatu proses yang singkat dan mudah. Karakter dibentuk melalui proses panjang yang membutuhkan konsistensi dan kesinambungan, yang didukung oleh aspek internal dan eksternal (keluarga, sekolah, dan lingkungan). Sekolah yang merupakan bagian utama dari sistem pendidikan dijadikan Swiss sebagai media utama untuk menanamkan nilai-nilai kepada warganya. Proses penanaman nilai-nilai ke dalam individu ini disebut sebagai internalisasi. Swiss dengan jeli memanfaatkan usia emas anak, yaitu antara 0-5 tahun, untuk memulai enkulturasi (pengenalan nilai-nilai), internalisasi, dan sosialisasi (penerapan) nilai-nilai kehidupan. Pengaruh pendidikan pada masa ini sangat besar sehingga enkulturasi, internalisasi, dan sosialisasi yang dilakukan pada masa ini akan mempermudah dan membuka jalan yang lebar bagi pembentukan karakter anak di fase-fase kehidupan selanjutnya.

Internalisasi nilai-nilai dan etika yang berhasil adalah ketika terjadi perubahan. Perubahan ini diwujudkan dalam bentuk perilaku individu tersebut yang akan menghasilkan individu yang berkarakter. Perubahan  dimulai dengan suatu proses pembelajaran. Konsep pembelajaran yang diterapkan pada sistem pendidikan bangsa Swiss adalah konsep pengalaman. Sekolah tidak hanya mengajarkan teori-teori tentang nilai-nilai atau etika kepada murid-muridnya, tetapi juga aplikasi dari nilai-nilai itu ke dalam kehidupan sehari-hari.

”Character cannot be developed in ease and quite. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, vision cleared, ambition inspired, and success achieved”

(Hellen Keller)

Karakter hanya akan terbentuk melalui pengalaman. Sekolah-sekolah di Swiss mengajarkan murid-muridnya tidak hanya sekadar mengetahui hal-hal baik (knowing the good) tetapi juga merasakan dan menerapkannya pada perilaku di kehidupan (feeling and acting the good). Ada sebuah peribahasa yang mengatakan pengalaman adalah guru yang terbaik. Ilmu dan pengetahuan yang diimplementasikan ke dalam sebuah bentuk pengalaman akan sangat membekas pada individu tersebut dan akan mengena ke alam bawah sadarnya. Pendidikan karakter yang diperoleh siswa di sekolah dibantu oleh pengalamannya di lingkungan tempat tinggal dan keluarga. Peran keluarga dan lingkungan sangat penting dalam membangun karakter seorang individu.

Proses pembelajaran melalui pengalaman secara konsisten akan membentuk pribadi yang berkarakter. Setelah melalui proses internalisasi karakter yang panjang dan sulit, Swiss membuktikan keberhasilan hasil pendidikannya pada dunia sebagai bangsa yang berkarakter. Karakter bangsa Swiss telah membawa Swiss sebagai negara makmur, aman, dan tentram. Hal ini membuktikan bahwa betapa pendidikan memiliki peran yang besar dalam internalisasi karakter.

Swiss telah menunjukkan bahwa sebuah negara yang terdiri atas individu-individu yang berkarakter dapat membentuk sebuah bangsa yang berkarakter. Dunia yang terdiri atas bangsa-bangsa yang berkarakter akan menciptakan tempat tinggal dan kehidupan yang jauh lebih baik.

Daftar Pustaka

Heatwole, Charles. 2008. Encarta Encyclopedia: Switzerland. Redmond, WA: Microsoft Corporation

Megawangi, Ratna. 2004. Pendidikan Karakter: Solusi yang Tepat untuk Membangun Bangsa. Depok: Indonesia Heritage Foundation

How to cite this article:

Ikada, Delina. 2009. Swiss: Internalisasi karakter melalui pendidikan. http://www.cindellinastory.wordpress.com. [tanggal Anda mengunduhnya]

=============================================================

Hey, there! :) Boleh minta tolong? Saya butuh partisipasi kamu dalam survey ini:

Survey sepatu

Cuma jawab 22 pertanyaan aja kok. Tolong isi ya kalau lagi sempat.. Makasih banyaaaak untuk bantuannya!

Delina

About these ads

6 thoughts on “SWISS: Internalisasi Karakter Melalui Pendidikan

    • wah iyaya joshua.. kenapa saya gak bahas ideologinya ya? hehehe.. pantesan papernya cuma dapet A kecil.. bener tuh.. Harusnya disinggung juga ideologi bangsa swiss seperti apa.. karna mungkin itu berpengaruh juga dalam pembentukan karakter bangsa swiss. Mmmm..tapi yang saya bahas sebenernya lebih ke bagaimana internalisasi karakter bangsa swiss melalui jalur pendidikannya.. :)

  1. jadi tugas ini tu ngmbil cth pada suatu negara ya??kebetulan ak jg dpt tgs yg sama dari matkul ini dan skrg lg bingung ngerjainnya,huhuhu..='(

    • wah semangat ya ditcha! waktu itu saya ngambil topik yg internalisasi lewat pendidikan kalo ga salah..
      Heuh.. jadi akhirnya ngambil contoh negara swiss. :)

  2. selamat pagi, saudara saya senang membaca karyah anda ttg internalisasi karakter di Negara lain. Pernahkah anda bayangkan internalisasi nilai-nilai karakter di negara kita tercinta ini, perbandingannya Negara Swiss dan Indonesia seperti apa? syallom brother.

    • Pagi, Mr. Daby….Tapi di sini sudah sore. Ya, saya sedang membayangkannya sekarang.. dan sebetulnya sulit menjawab pertanyaan itu. Indonesia terdiri dari beragam budaya dan etnis dengan basis 5 agama (mungkin 6 ditambah Konghucu?)… setiap keluarga memiliki caranya masing-masing dalam menanamkan nilai-nilai karakter sesuai dengan hal yang diyakininya. Tapi tentu saja, proses internalisasi karakter itu tidak 100% dipengaruhi keluarga, juga dipengaruhi oleh lingkungan dan lainnya..
      Terima kasih telah berkunjung di blog ini.
      Nah sekarang saya ingin tahu bayangan Anda mengenai internalisasi karakter di negara yang sangat kita cintai ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s